Balongdalem

PDAU Lestarikan Kearifan Lokal “Kawin Cai” Kuningan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 25 April 2011 03:27

PDAU Kuningan - Kuningan secara turun temurun telah memiliki kearifan local dalam menghormati dan menjaga air sebagai sumber kehidupan tradisi tersebut diberinama Tradisi Kawin Cai atau sebelumnya disebut Tradisi Mapag Cai. Masyarakat Kuningan meyakini bahwa air bersih yang berlimpah yang bersumber dari alam yaitu mata air Gunung Ciremai sebagai berkah kehidupan dari Yang Maha Kuasa, oleh karenanya harus dihormati dan dijaga kelestariannya. Tradisi Kawin Cai/ Mapag Cai ini adalah prosesi mempertemukan air dari tujuh sumber mata air Cibulan Desa Manis Kidul dengan air dari sumber mata air Balong Dalam Tirtayatra. Setelah mempertemukan air dari kedua sumber mata air tersebut acara diakhiri dengan penanaman pohon untuk menjaga kelestarian alam, berdoa bersama dan acara ramah tamah / silaturahmi warga masyarakat.

Inti ritual ini mengawinkan air dari 7 sumur mata air Cibulan dengan mata air Balon Dalem Tirtayatra yang berjarak sekitar 5 kilometer. 7 sumur di mata air Cibulan dilambangkan sebagai pengantin laki-laki. Sementara mata air Balon Dalem disimbulkan sebagai mempelai perempuan.

Sebelum pengambilan air di 7 sumur keramat, dilakukan dulu pembacaan doa di depan petilasan Prabu Siliwangi agar acara kawin cai berjalan lancar.

Satu persatu para sesepuh Desa Manis Kidul mengambil air dari 7 sumur keramat. Masing-masing sumur punya nama khusus, seperti sumber kejayaan, kemuliaan, pengabulan, deranjana, cisadane, kemudahan dan sumur keselamatan.

Konon ke 7 sumur itu merupakan peninggalan Prabu Siliwangi usai bertapa meminta air kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi warga sekitar, air dari 7 sumur ini mengandung berkah dan dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit.

Di kolam pemandian Cibulan yang kini jadi tempat wisata ini juga terdapat ikan dengan spesis khusus yakni ikan Kancra Bodas yang dikeramatkan warga. Ikan yang bernama latin Cyprinus carpio ini disebut pula sebagai ikan dewa.

Usai penyatuan 7 air sumur keramat, biasanya hujan langsung turun. Percaya atau tidak, sekitar satu menit kemudian hujan mulai membasahi bumi.

Tapi prosesi kawain cai belum selesai. Air 7 sumur diarak ke mata air Balon Dhalem di Desa Babakan Mulia. Bak menyambut mempelai pria, upacara dan tarian khusus digelar.

Acara puncak ritual kawin cai pun tiba. Air dari 7 sumur keramat Cibulan ditumpahkan ke sumber mata air Balon Dhalem Tirtayata. Perkawinan yang disimbulkan dengan penyatuan mata air dari dua desa tersebut merupakan perwujudan doa dan harapan warga agar air tetap mengalir deras.

Perusahaan Daerah Aneka Usaha Darma Putra Kertaraharja (PDAU) sejalan dengan Visi Bupati Kuningan menjadikan Kuningan sebagai Kota Pariwisata dan Konservasi Lingkungan berusaha melestarikan Kearifan Lokal Mapag Cai/ Kawin Cai tersebut dengan terjun langsung berpartisipasi melibatkan Linggarjati Organizer dalam prosesi acara Mapag Cai yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Babakan Mulya. Dibawah ini foto Tim PDAU bersama Kasepuhan dari Desa Babakan Mulya dan Desa Manis Kidul melakukan prosesi membawa air dari mata air 7 Cibulan ke mata air Balong Dalem Tirtayatra. Nama Tirtayatra pun sangat bermakna karena tirta berarti air dan yatra adalah kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan. Besar harapan PDAU dengan lestarinya sumber air Balong Dalem Tirtayatra bisa memberikan kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan. Pun sapun kaluluhuran.

Share this post

Last Updated on Monday, 10 October 2011 04:11
 

Language

Online Servis

Others Menu

Coming Soon

No events

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1236
mod_vvisit_counterYesterday2453
mod_vvisit_counterThis week10777
mod_vvisit_counterLast week23218
mod_vvisit_counterThis month63790
mod_vvisit_counterLast month37666
mod_vvisit_counterAll days382988
You are here  : Home News PDAU Lestarikan Kearifan Lokal “Kawin Cai” Kuningan